The Ghost Of You Part 8

Siwon membanting pintu kamarnya dengan kasar, pikirannya kacau karena kejadian tadi pagi, “Hyera..” katanya tercekat, ditatapnya wanita anggun yang tengah duduk diatas ranjangnya, Hyera melemparkan senyum tak bersahabatnya membuatnya bergidik ngeri karne Hyera bahkan memandangnya dengan pandangan membunuh,

“Ini masih kamarku kan?” tanya Hyera retoris, Siwon berjalan takut-takut, disampirkannya jas hitam yang tengah dipakainya, “Ini memang kamarku!” Hyera memainkan rambutnya dengan jemari tangannya,

“Aku lelah!” kata Siwon seraya melepas dasinya, Hyera beranjak dari ranjangnya dan perlahan berjalan menghampiri suaminya, Siwon melempar dasinya kesofa disampingnya berusaha menghindari tatapan sang istri, tapi tangan halus itu kini bergelayut dipundaknya, tangan itu menjelajahi bahu lebar itu,

“Aku juga!” kata Hyera, matanya menatap lurus kearah dada bidang Siwon, jemarinya kini bermain diatas kemeja putih Siwon, Siwon hanya diam terpaku, ia tak berani –atau mungkin malu- untuk melakukan ‘perlawanan’ jemari Hyera secara perlahan membuka satu-persatu kancing kemeja miliknya, “D*mn! Aku selalu tidak kuat melihat absmu!” keluh Hyera dengan senyum mengejek, tangan mungilnya kini mendorong tubuh besar Siwon membuat pria didepannya itu terdorong beberapa senti kebelakang.

Hyera berjalan meninggalkan Siwon yang masih terpaku ditempatnya, langkahnya terhenti setelah membuka pintu kamarnya, “Gadis lain, akan berteriak histeris saat melihat absmu!” kata Hyera yang langsung membanting pintu tersebut dengan keras,

BLAM

Suara pintu tersebut seolah menyadarkan lamunan panjang Siwon, “ARRGGHHH!!!” Siwon melempar kemejanya kesembarang tempat, wajahnya mengeras *?* sepertinya pikirannya semakin kacau sekarang, “Harusnya aku tak pulang sekarang!” gerutunya.

“Harusnya kau menyelesaikan masalahmu hyung!” suara seorang yang familiar diambang pintu kamarnya, tanpa menoleh Siwon tahu dengan jelas siapa orang tersebut,

“Tinggalkan aku sendiri Minho-ah!” ujarnya, ya dia tahu kalau orang yang baru saja sok menasehatinya adalah Choi Minho, adiknya, Minho tersenyum sinis sebelum, akhirnya meninggalkan sang kakak kembali sendiri.

“Mimi ^^” Zhoumi menoleh kearah sumber suara tersebut, benar dugaannya ternyata suara cempreng itu adalah milik Kyeon, ini adalah jam istirahat dan hanya Kyeon dan dia saja, 2 orang bodoh yang selalu menghabiskan waktunya diatap sekolah, “Mimi ini aku bawa roti bakar untukmu! Eh rotinya roti sobek lho!” Zhoumi mendengus kesal mendengar si cempreng itu berbicara,

“Kemarin kau panggil aku ‘Zhoumi-ssi’ sekarang ‘Mimi’.” kata Zhoumi menyindir,

“Ah.. Mimi jangan bahas itu ya1 Ini.. Aku memakaikan selai kacang kesukaanmu!” elak Kyeon seraya menyodorkan rotinya,

“Aku tidak lapar!” tolak Zhoumi ketus, Kyeon mengerucutkan bibirnya kesal,

“Aku yang mebuatnya, bukan Ibuku atau pelayan!” gumam Kyeon seraya memandang kotak bekal dipangkuannya,

“Wuahahaha… Iyaya sekarang kan kau punya pelayan!” ejek Zhoumi, “Tapi maaf, aku benar-benar tidak lapar, kau sendiri yang membuat nafsu makanku hilang!” kata Zhoumi yang lagi-lagi terdengar menyindir, Kyeon menghentakkan kakinya, dengan kasarnya ia melempar kotak makan siangnya kepangkuan Zhoumi,

“Aku sudah membuatnya cepek-capek, kau harus tetap memakannya!” Kyeon memaksa, Zhoumi memandang Kyeon dan kota bekal itu bergantian,

“Kenapa jadi dia yang galak?” gerutunya pelan, Zhoumi mengambil setangkap roti buatan Kyeon tapi belum sempat ia memakannya Kyeon tertawa keras dihadapannya, “Wae?” tanyanya heran,

“Kau lucu ya! Hahaha…” Zhoumi meletakan kotak yang dipegangnya beserta roti yang gagal dimakannya,

“Ani! Aku tak lucu! Aku benar-benar kesal padamu, tapi aku berusaha bersikap baik padamu, dan kau malah main-main denganku dan kau sebut itu lucu, kau pikir aku ini badut??” tanya Zhoumi berteriak, tentu saja itu mengejutkan gadis itu, Kyeon tak pernah dibentak siapapun bahkan oleh orang tuanya, Kyeon diam mematung dihadapan Zhoumi, hatinya sakit, tapi menangis dihadapan orang yang baru saja membentaknya adalah hal yang sangat memalukan,

“Rotiku memang tidak enak, masih jauh lebih enak buatan ibuku!” kata Kyeon lirih, diambilnya kotak makan siang yang tergeletak dibangku dan dengan segera ia berlari menuruni atap sekolahnya.

“Oppa!” Yunho menoleh ketika mendengar suara seorang gadis yang tak asing lagi, gadis itu berdiri diambang pintu dengan menggunakan terusan berwarna krem, Yunho tersenyum seolah memberi isyarat agar gadis itu masuk keruangannya, gadis itu melangkah manis menghampiri Yunho yang terlihat sibuk didepan tumpukkan box file,

“Kau sibuk?” tanya gadis itu, Yunho menggeleng cepat, “Mau aku bantu?” tawar gadis itu,

“Tidak perlu Minah-ssi kau pasti lelah baru kembali dari Jeju!” tolaknya halus, “Oh ya bagaimana liburanmu? Menyenangkan?” tanyanya,

“Ada kejadian menarik oppa!” kata Minah dengan senyum liciknya, Yunho meletakkan file yang tengah dibacanya, “Aku berpapasan dengannya, dengan seorang Han Hyera!” lanjut Minah,

“Dia bersama Kim Heechul, sepertinya mereka sedang melakukan pemotretan, tapi kau tenang saja oppa, aku tak berbicara apapun, saat itu aku pura-pura mendengarkan musik!”

“Lalu apa yang kau dapat dari Siwon?” tanya Yunho, Minah tersenyum sesaat,

“Ini..” Minah memberikan sesuatu yang masih terbungkus plastik berwarna bening, Yunho menerimannya, memperhatikan dengan teliti benda yang tengah dipegangnya,

“Bagus!” puji Yunho dengan senyum kemenangan.

Hyera baru saja akan keluar dari rumah itu kalau saja ia tak berpapasan dengan Cho Kyuhyun, “Noona” Kyuhyun menahannya dengan cengkraman dilengannya, Hyera mendelik tajam kearah Kyuhyun,

“Wae?” tanya Hyera cuek,

“Mau kemana?” tanya Kyuhyun,

“Bukan urusanmu!” Kyuhyun berdecak kesal melihat sikap cuek Hyera,

“Noona ingat, kemarin aku bilang mau kasih Noona apa?” Hyera menggeleng,

“Setauku kau bilang tunggu di Seoul!”

“Oh iya ya ^^” Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tak gatal, “Ah ini, ini aku beli waktu jalan-jalan ke pasar tradisional sama Donghae hyung, harganya memang tak seberapa, tapi aku rasa itu cocok untuk Noona!” Hyera memandang takjub kalung etnik yang masih dalam genggaman Kyuhyun, kalung itu memang sangat sederhana, hanya dihiasi manik-manik, kerang, dan beberapa hiasan dari alam lainnya, kalung itu bukan emas tapi penuh warna,

“Noona kalungnya baguskan? Tapi kalau Noona tak mau, biar aku kasih ke Diana!” kata Kyuhyun polos,

PLETAK

“Jadi ini untukku atau Diana, babo?” marah Hyera,

“Ya untuk Noona lah! Diana itu udah aku kasih kalung rantai kkk~ kan aku bilang kalau Noona tidak mau!” kata Kyuhyun terkekeh, Hyera dengan cepat menyambar kalungnya, dan memakainya,

“Othe?” tanyanya meminta pendapat,

“Bagus Noona!” puji Kyuhyun, “Harusnya kau pakai itu waktu pemotretan kemarin!” sambung Kyuhyun, air muka Hyera berubah dengan cepat, Kyuhyun yang menyadarinya menjadi khawatir tapi Hyera malah melengos keluar,

“Noona kau kenapa?” tanya Kyuhyun berusaha mengejar Hyera, “Apa kemarin terjadi sesuatu? Apa kau kalah bermain voli? Atau ada yang menyakitimu?”

DEG

Hyera menghentikan langkahnya, pertanyaan terakhir itu benar-benar membuatnya sesak, Kyuhyun memiringkan kepalanya ia tampak bodoh dihadapan noonanya saat ini, “Noona!” panggilnya,

“Gwaenchanayo! Aku mau ke sekolah Sashi, kau mau ikut?” tanya Hyera,

“Oh ya sudah biar aku antar!” kata Kyuhyun.

Kyeon berdiri didepan pagar sekolahnya sebenarnya ini belum waktunya pulang, tapi hari ini pikirannya sedang kacau, ia memutuskan untuk melarikan diri dari sekolahnya –tentu saja setelah memastikan tidak ada satpam yang menjaga pagar- Kyeon menatap nanar pagar yang berdiri kokoh tersebut, pagar itu benar-benar tinggi, bahkan lebih tinggi dari pada Shim Changmin temannya,

“Bagaimana cara melompatinnya?” tanyanya konyol, Kyeon memandangi sekitarnya berusaha mencari sesuatu yang bisa membantunya memanjat, kalau saja ia punya kunci gemboknya maka ia tak perlu bersusah payah menyebrangi pagar hitam tersebut,

“Kau mau tau cara yang baik untuk melewati pintu pagar, kakak ipar?” tanya Kangmi menginterupsi, Kyeon dengan cepat menoleh kearah Kangmi yang menyeringai dibelakangnya,

“Ah ani! Err..”

“Wae? Mau kabur ya? Kemarin sudah bolos, dan sekarang mau kabur? Kau benar-benar mirip Kangin!” sindir Kangmi,

“Mwo? Jangan seenaknya menyamakanku dengan kakakmu yang..” bantah Kyeon menggantung,

“Yang apa? Yang brengsek?” tanya Kangmi sarkastik, “Kangin pernah melewati pagar yang jauh lebih tinggi dari ini saat SMA, Key juga sering melakukannya, itu seperti sebuah keahlian turunan, mau aku ajari?” tawar Kangmi, Kyeon menelan ludahnya ditatapnya pagar itu dan sang adik ipar secara bergantian,

“Aku tahu kau sedang bosan disekolah, tidak apa, aku tidak akan adukan ke siapapun kok! Bahkan aku akan bilang ke semua guru kalau kau ijin sakut, othe?” Kyeon menangguk lemah, ia memang jenuh dengan keadaan sekolah, apalagi dengan kejadian tadi,

“Sini ikut aku!” Kangmi menarik tangannya dengan kasar, “Lihat caranya!” titah Kangmi, gadis itu dengan cepat memajat pos satpam dan berdiri diatas atapnya, “Seperti ini!” pamernya seraya melangkah kearah pagar, dan dalam hitungan detik melompat dari atas pagar,

“MWO?” Kangmi terkekeh geli melihat Kyeon yang terbelalak disebrang pagar, “Ayo kau coba!” suruhnya, Kyeon melangkah takut-takut, ia masih mengingat bagaimana cara Kangmi melakukannya, tapi ia tak punya nyali sebesar itu,

“Jamka, bagaimana caranya kau kembali masuk kedalam?” tanya Kyeon,

“Akan terjawab kalau kau sudah keluar!” jawab Kangmi, Kyeon perlahan naik kesela-sela jendela pos tersebut, tapi jarak dari jendela ke atapnya benar-benar jauh, “Aisshh Youngmi itu monyet ya sampai bisa melompat setinggi itu?” gumamnya pelan,

“Pegang atapnya dan angkat kakimu, lakukan dengan cepat kalau tidak ingin terjatuh!” ujar Kangmi menginterupsi, Kyeon menurut ia berusaha meraih langit-langit setelah itu atapnya, dan entah bagaimana caranya sekarang ia sudah berada diatap pos,

“Hati-hati atapnya miring!” pekik Kangmi mengingatkan, Kyeon merangkak menuju pinggiran atap dimana disana ada sebuah tiang penyanga pagar,

“Tadi dia melompat dari sini kan?” gumamnya ragu,

“YAK! Palliwa!” pekik Kangmi, Kyeon menatap dataran dibawahnya, rasanya lebih mengerikan dibandingkan naik bianglala, tapi ini sudah terlanjut ia menarik napasnya dalam-dalam dan melompat dengan cepat,

HUP

Kyeon melompat dengan sangat sempurna, ia mengerjapkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukannya,

“Bagus Kyeon-ssi, kau memang mirip Kangin!” puji Kangmi,

“Lalu bagaimana caranya kau masuk?” tanya Kyeon, Kangmi tersenyum misterius seraya berjalan mendekati pintu pagar,

“Kangin dan Key bisa menyebrangi pagar tanpa bantuan pos, tapi aku hanya bisa melakukannya dengan pos!” ujar Kangmi,

“Tapi diluar kan tak ada pos Youngmi-ah!” kata Kyeon khawatir,

“Kakak-kakaku merayap dari bawah keatas seperti manusia laba-laba, tapi aku selalu gagal!” kata Kangmi lagi,

“Lalu bagaimana?” tanya Kyeon panik, “Apa kau mau mencoba merayap juga?”

“Untuk apa? Aku punya ini kok!” katanya seraya mengacungkan sebuah kunci ditangannya,

“Mwo?”

“Aku punya duplikatnya, aku minta sama Kyuhyun oppa dia kan dulu tukang bolos juga ^^ hebat kan?” katanya seraya menacungkan ibu jarinya, Kyeon mengehela napas lemas, ia baru saja melakukan hal paling berbahaya dalam hidupnya, padahal ia bisa saja melewati pagar itu dengan mudah.

Hyukjae baru saja sampai di Seoul hari ini ia harus ikut membantu satuan Polisi Seoul, ia sedikit tergangu dengan kehadiran Junsu sejak tadi Junsu terus berada disampingnya membuatnya merasa tak nyaman,

“Kau tak bersama temanmu Junsu-ssi?” tanya Hyukjae,

“Siapa? Yunho, Jaejoong, Changmin, atau Yoochun?” tanya Junsu,

“Ah yang terakhir itu!” kata Hyukjae membetulkan,

“Oh.. Aku sudah tak dengannya lagi, maksudku Yoochun dan Yunho bertukar posisi, tapi sekarang Yunho sedang ada di pusat, ada beberapa file yang harus dipelajarinya!” jelas Junsu,

“Ah aku ke toilet dulu!” pamit Hyukjae, Junsu mengangguk mengerti.

“Sh*t! Kenapa orang itu seperti sedang mengawasiku?” rutuk Hyukjae, Hyukjae mengambil ponselnya dan menekan speed dialnya,

“Yeoboseoyo!” sapa Hyukjae pada suara disebrang,

“Dengar sekarang satauan Polisi Seoul sedang menginvestigasi daerah E!” katanya,

“…”

“Ne! Hati-hati!” katanya lagi seraya mematikan ponselnya,

“Huft…” Hyukjae menatap sekelilingnya, dan keluar dari toilet tersebut.

“YAK!” Kyeon memuntahkan minumannya saat seorang pria sebayanya dari arah belakang memukul pundaknya dengan kasar,

“Aissh LEE TAEMIN!!” marahnya, yang dimarahi malah tersenyum geli menatap Kyeon,

“Ada apa? Tumben ngajakin aku bolos, dulu waktu SMP setiap aku mau bolos, pasti kau marahi aku, sekarang malah kebalikannya!” tanya Taemin heran, ia meletakkan punggung tangganya didahi Kyeon, “Kau baik-baik saja kan? Baut dikepalamu tidak ada yang lepas kan?” tanyanya lagi,

“Aisshh… apa-apaan sich!” kata Kyeon menghempaskan tangan Taemin, “Jalan-jalan yuk! Aku lagi sebel nich! Nanti aku ceritain semua dech!” Taemin menangguk patuh,

“Baiklah, tapi mau kemana?” tanya Taemin,

“Bukit belakang sekolah!”

“Bukit belakang sekolah? Sekolah siapa?” tanya Taemin polos,

“Nobita! Ya sekolah kita lah! Bukit dibelakang SMP kita, aku sudah lama tidak kesana, ayo Tataem-ah!” Kyeon menarik-narik tangan Taemin manja,

“Nde.. Khaza!” ajak Taemin.

Kyeon menatap pemandngan kota Seoul dari atas bukit dimana ia tengah berdiri sekarang *emang ada ya? author ngarang bebas* Taemin memilih berbaring dihamparan rerumputan bukit,

“Katanya kau mau cerita?” tanya Taemin memecah keheningan,

“Nde.. Aku mau jujur padamu!” kata Kyeon yang sontak membuat Taemin berdiri menghampirinya,

“Wae? Kau menyukaiku ya?” tanya Taemin konyol,

“Aisshh… Aku sedang tidak ingin bercanda Tataem-ah!” marah Kyeon,

“Dengar ya, ini tentang aku, keluargaku, mantan pacarku, dan suamiku juga keluarganya!” mulai Kyeon, Taemin terbelalak mendengar perkataan sahabat kentalnya,

“Suami?” tanya Taemin tak percaya, Kyeon mengangguk lemah,

“Ini tak seperti yang kau pikirkan Taemin-ah.. tolong dengarkan aku dulu!” pinta Kyeon. Kyeon menceritakan semuanya pada Taemin, tentang hutang ayahnya, tentang pernikahan paksanya, tentang kisah cintanya, tentang semua yang sedang dialaminya, tentang beban berat yang tengah menggelayuti pundaknya, Taemin adalah temannya saat di SMP, Kyeon selalu menceritakan keluh kesahnya pada Taemin, hanya Taemin lah yang bisa menghapus kesedihannya, hanya pria itu lah yang mau dengan sabar mendengarnya dan mau mengertinya. Taemin adalah sahabat terbaik baginya.

“Uljima Kyeon-ah!” hibur Taemin, jemarinya dengan lembut menghapus air mata dipipi Kyeon, “Aku yakin kau bisa melewati semuanya dengan baik, kau gadis yang kuat Kyeon-ah, kau gadis yang tegar, kau tak pernah menangis kan?” Kyeon menyeka air matanya sendiri dan tersenyum kepada Taemin,

“Gomawo.. jeongmal gomawoyo Tataem-ah..”

“Ani! Aku tak melakukan apa pun!”

“Kau mendengarku, kau memberi pundakmu untuk jadi sandaran, aku menghapus air mataku, itu sudah lebih dari cukup bagiku!” Taemin tersenyum dan kembali menenggelamkan kepala Kyeon didalam dadanya,

“Yah cukup, sudah cukup!” ujarnya lirih.

“Kalian?” Diana menatap tak percaya kearah dua orang dihadapannya, Kyuhyun dan Hyera, ya dua orang itu datang ke sekolah Sashi, dan ini untuk pertama kalinya,

“Wae?” tanya Kyuhyun,

“Diana, hari ini kau dapat libur!” Diana dan Kyuhyun menoleh ke arah Hyera bersamaan,

“Kalian berdua pergi saja, nanti biar Sashi pulang denganku saja!” kata Hyera,

“Kundae..”

“Sudahlah jarang-jarang kau liburkan?” kata Kyuhyun seraya menarik tangan Diana, “Gomawo Noona!” teriaknya,

“Ya biar Sashi pulang denganku..” gumamnya pelan.

TBC

KyeonMi: Mian lama… *bungkuk badan*
Kyeon: lho? KangKyeon momentnya mana?
Mi: aigoo… itu udah sama Zhoumi n Taemin masih kurang??
Kyeon: ^___^ *nyengir*
Mi: puas??
Kyeon: belom!!
Mi: -..-)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s