In Young Noona, Nan Neol Saranghae!

Title: In Young Noona, Nan Neol Saranghae!
Author: Mentari Lacamara
Rating: AU
Genre: Family
Main Cast: Park In Young and Park Jung Soo
Other Cast: Park Ri Rin and Kim Heechul
Summary: Ririn bosan hidup diantara dua gunung es, ia berharap dapat menjadi matahari yang mencarikan es itu dengan sinarnya yang hangat.. *summary macam apa ini?*
Disclaimer: Park In Young and Park Jungsoo belong their parent, Park Ririn belong Siwon *????*
WARNING! Cerita keluarga yang boring dan aneh, yang ngga suka cerita tanpa bumbu-bumbu ‘pacaran’ *?* mending cabut sekarang ^-^

Ririn mengaduk segelas coklat yang masih mengepulkan asap, udara malam sangat dingin sama sekali tak cocok seorang gadis sepertinya tapi ini lah nasib seorang insomnia yang seperti kelewar meski malam mata masih saja tak mau terpejam

KRING~

Ririn meletakan gelasnya lalu kemudian mengangkat gagang teleponnya, “Yoboseyo?” sapanya, “Ne Oppa.. ne! Annyeong!” Ririn meletakkan kembali gagang telepon tersebut dengan gusar gadis itu menyeruput susunya hingga habis dan berlari menuju pintu kamarnya.

Gadis itu menghempaskan tubuhnya diranjang ukuran King Size miliknya, meski lelah matanya masih saja tak mau berkompromi,

drrrttt…. drrrttt…

Dirabanya kasurnya mencari dimana tadi ia meletakkan ponselnya, “Dapat!” serunya saat berhasil menemukan ponselnya,

“Aku tidak pulang malam ini jadi tidak usah menungguku, beritahu Jungso! Kau jangan tidur terlalu malam, tidak baik! Lekas tidur dan jangan lupa mengunci semua pintu dan jendela!

Ririn tersenyum simpul membaca pesan yang baru saja dikirim sang kakak, In Young tak beda jauh dengan di ucapkan oleh si penelpon, Jungsoo. Tanpa membalas pesannya gadis itu memejamkan matanya berusaha memasuki alam mimpi yang sejak tadi sudah menantinya.

“Noona..” Jungsoo menatap lirih sang kakak yang kini berdiri seraya bertolak pinggang, ia sendiri sedang terduduk di pinggir jalan yang sepi dengan seragam putih yang agak kotor sementara di sudut bibirnya mengalir cairan merah kental yang hampir mengering.

“Yaa apa yang kalian lakukan pada adikku?” amuk In Young, dengan mata elangnya yang tajam gadis berumur 12 tahun itu menatap sinis segerombolan anak-anak sekolah dasar yang sejak tadi mengerjai adiknya. In Young menghela napas kasar dan bersiap memukul anak-anak nakal itu dengan stik golf yang di curinya dari ruang kepala sekolah namun anak-anak nakal itu dengan gesitnya berlari menghindari In Young, gadis itu tak mau diam dia hampir saja mengejar mereka kalau saja tak di cegah Jungsoo.

“Biarkan saja Noona, jangan perpanjang masalah, ku mohon… kita pulang saja!” pinta Jungsoo yang tentu saja di iyakan oleh sang kakak.

“Onnie… Oppa…” Ririn berlari kecil menghampiri kedua kakaknya, gadis kecil yang siap masuk sekolah dasar itu mengusap sudut bibir Jungsoo pelan,

“Aww..” keluh Jungsoo membuat Ririn menurunkan tangannya panik,

“Neo gwaenchanayo Oppa?” tanya Ririn khawatir.

Jungsoo tersenyum tipis, “Ne.. nan gwaenchanayo!”

“Onnie.. apakah Oppa dijahili teman-temannya lagi?” tanya Ririn polos, In Young tersenyum singkat dan mengangguk mengiyakan.

In Young menatap adik laki-lakinya yang tertidur di kamarnya, gadis itu bisa melihat rasa sakit dan lelah yang jelas terpancar di wajah adiknya tapi setidaknya kejadian itu sudah berlalu, “Umma… pindahkan saja Jungsoo!” rengeknya pada sang ibu.

Sang ibu menatapnya lembut, “Aniya!” tolaknya.

In Young menarik tangan ibunya, “Umma… teman-temannya jahat, biarkan dia sekolah denganku saja Umma!”

Lagi, sang ibu menggelengkan kepalanya sebagai tanda penolakan.

“Jungsoo, jaga adikmu ya!” Jungsoo mengagguk patuh saat sang ayah menyerahkan Ririn adiknya. Ini adalah hari pertama Ririn bersekolah di sekolah dasar, gadis itu meminta masuk sekolah yang sama dengannya dan sebagai kakak yang baik ia berjanji akan menjaga adiknya dengan baik.

“Oppa mereka kenapa?” Ririn menatap takut segerombolan anak laki-laki yang tengah menghadang jalannya, Jungsoo diam tak menjawab dan langsung menarik tangan Ririn mencari jalan lain, “Oppa mereka mengejar kita!” rengek Ririn merasa takut, Jungsoo tak bergeming dia menatap lurus ke depan, bukan karena tak mempedulikan adiknya tapi karena rasa takutnya.

Memang benar Jungsoo adalah seorang pengecut, dia sudah menjadi anak tertindas sejak hari pertamanya di sekolah jadi ia tak akan membiarkan adiknya mengalami hal yang sama dengannya, “Yaa!” Jungsoo tercekat mengehentikan langkahnya, seorang anak bernama Kim Dongchan itu tiba-tiba saja menghadang langkahnya, “Mau kemana kau anak manja?” tanyanya mengejek.

Jungsoo menarik napas dalam berusaha mengumpulkan keberenaian dalam dirinya, “Ini siapa? Adikmu?” tanya Jinji seraya mengusap pipi Ririn lembut,

“Yaa lepaskan!” Ririn menghempaskan tangan anak itu dengan kasar membuat anak laki-laki itu mendengus kesal,

“Yaa berani sekali gadis ini?”

“Kau lupa ya? Gadis-gadis di keluarga Park itu galak dan menakutkan, berbanding terbalik dengan yang pria!”

“Wae ire?” Ririn melotot kesal mendengar ejekan mereka tapi sebelum iya berbicara banyak Jungsoo menariknya berlari menjauhi anak-anak nakal itu, “Yaa oppa apa yang kau lakukan?” Ririn berusaha melepas tangan Jungsoo tapi anak itu mencengkram adiknya dengan sangat kuat.

“Ririn-ah ku mohon jangan berhubungan dengan mereka!” Jungsoo mengantar Ririn sampai kelasnya, ia memperhatikan sekitarnya berharap tak ada satu pun temannya yang mengikutinya, “Mereka anak nakal, aku tak mau kau dekat-dekat dengan mereka!” imbuhnya.

Ririn memutar bola matanya yang kecoklatan sejurus kemudian gadis itu menganggukan kepalanya setuju, “Kalau oppa yang menyuruh pasti aku turuti!”

Lonceng berdering kencang menandakan waktu istirahat, suara riuh anak-anak sekolah dasar bergermuruh menghiasi setiap ruang, beberapa di antara mereka sibuk bermain dengan teman sebayanya, sementara yang lain menghabiskan waktunya dikantin dan hanya beberapa yang melangkahkan kakinya ke ruang perpustakaan.

Seorang anak gadis dengan rambut terkepang dua berjalan riang membawa sekotak bekal makan siangnya, gadis itu hendak pergi mencari kakaknya untuk menemaninya makan siang. Gadis itu menatap ruang kelas di depannya, sebuah papan bertuliskan 5-1 tertempel erat dipintu kayu itu, dengan mengendap-endap gadis itu menjulurkan lehernya demi mengintip suasana di dalam kelas.

“Kau cari siapa gadis manis?” nyaris saja kotak bekalnya terjatuh, ia menoleh ke arah sumber suara sekitar 5 anak laki-laki berdiri mengelilinginya dengan tatapan yang susah diartikan.

“Yaa mau kemana kau?” tanya salah satu di antara kelima anak itu, gadis itu tak menggubrisnya ia mengambil langkah cepat menjauhi kelimanya.

“Ririn!” gadis itu menoleh cepat menyadari sebuah suara yang sangat familiar ditelinganya, “Kemari!” seorang anak laki-laki tampak bersembunyi di balik tembok, tangannya memberi isyarat kepada Ririn untuk segera menghampirinya.

“Oppa,” Ririn dengan segera berlari menghampiri sang kakak sementara sang kakak lagi-lagi menyeretnya, kali ini ke perpeustakaan sekolah. “Oppa untuk apa kita kemari?” tanya Ririn polos.

“Aku takut mereka mengganggumu!” jawab Jungsoo seadanya,

“Oppa aku mencarimu!”

“Aku tahu!”

“Kau bilang kelasmu itu 5-1 kan? Tapi kenapa anak-anak nakal itu yang ada disana?”

Jungsoo menghembuskan napas berat, “Mereka teman sekelasku!” Continue reading

Advertisements

TaeTeuk Series – First CF

Title: First CF
Author: Mentari Lacamara
Rating: AU
Genre: Romance, Friendship
Main Cast: Taeyeon and Leeteuk
Other Cast: Super Junior and SNSD member
Summary: CF pertama untuk para personil Super Junior dan SNSD dimana dalam CF ini mereka akan dipasangkan? *ngga yakin ini CF pertama or bukan kalo salah maaf ini cuma untuk keperluan cerita ^^V* Tapi sepertinya beberapa merasa tidak nyaman dengan keadaan ini… ah summary gagal lagi, baca aja dech ^^
Disclaimer: Super Junior and SNSD belong SM Ent but this fict is mine!
Ok comment if you want, i need loyal readers thx ^^ Continue reading

Sorry, I Love Him! Part 1

Aku tahu apa yang mereka katakan tentangku, aku tahu mereka bilang aku bodoh, gila atau terlalu polos. Tapi beginilah aku, aku yang mencintainya ‘apa adanya’ dia adalah pria yang selalu membuatku nyaman, senyumnya tulus, dia ramah pada siapa pun dan yang terpenting adalah dia sangat setia.

“Kangmi-ah, appa antar ya!” pinta ayahku,

“Tidak perlu appa, aku mau pergi dengan Shindong oppa saja!” tolakku,

“Aigoo Kangmi! Noe..” belum sempat ayah memarahiku, aku malah sudah melarikan diri darinya.

“Annyeong oppa, belum lama menunggukan?” tanyaku pada seorang pria yang sudah bersiap dengan sekuter tuanya,

“Aniyo, khaza nanti kita terlambat!” ajaknya,

“Ne!” jawabku besemangat, aku lalu duduk dibelakangnya dan melingkarkan tanganku ditubuh tambunnya. Aku memang seperti ini, setiap pagi selalu menghampiri Shin Dong Hee, atau yang biasa dipanggil Shindong ini untuk pergi kesekolah bersama.

Aku tidak peduli meski banyak yang mentertawaiku, lebih baik aku ditertawai karena berpacaran dengan seorang pria gendut ketimbang ditertawai karena diselingkuhi seorang playboy flamboyan.

Udara Seoul pagi hari seketika menjadi sesak saat sekuter merah muda Shindong oppa memasuki wilayah protokol, dikiri kanan tampang puluhan mobil dan motor berlalu lalang hendak mencapai tujuan.

Ku eratkan pelukanku saat kekasihku mulai tancap gas, tak menyangka memang kalau seorang Shindong adalah kekasihku awalnya aku menerima cintanya setelah dikhianati seorang hidung belang bahkan pria itu mentertawaiku saat melihat kami jalan bersama, “Seleramu turun hah? Kau membuatku malu saja!” kalimat yang cukup menyakitkan tapi bagiku lebih menyakitkan jika aku menanggapinya.

Tak terasa sudah hampir setahun kami memadu kasih, berawal dari dendamku pada Leeteuk kini aku malah benar-benar mencintainya..

“Yaa Kangmi!!!!!” seorang pria aegyo berpipi chubby berlari menghampiri lapangan parkir dengan cepat ia menarik lenganku, menciptakan jarak dengan namjachinguku, “Igo!” si aegyo menyerahkan selebaran penguman padaku seraya tersenyum memamerkan deretan gigi kelincinya.

“Mwoya?” kubaca selebaran tadi karena si aegyo tak memberu jawaban padaku, “Hanya Prom Nite.” responku datar, kulangkahkan kakiku menuju Shindong oppa yang sudah menantiku setelah sebelumnya mengembalikan selebaran itu kepada King of Aegyo, “Lee Sungmin-ssi kalau kau berpikir aku tertarik menjadi ‘Queen of Prom’ kau salah!” kataku sembar menyeret Shindong oppa meninggalkan wilayah sesak kendaraan itu.

“Kau malu karena pasanganmu adalah aku?” bagai sedang tertohok sebuah busur tajam, ekor mataku menangkap kekecewaan yang tergambar jelas diwajah namjaku.

“Kenapa berpikir seperti itu?” rajukku,

“Karena seorang putri cantik harusnya pergi ke pesta dengan pangeran tampan.” jawabnya datar, kuhentikan langkahku dan menghalangi jalannya, kutatap namja itu dari kaki hingga kepala.

“Aku bukan putri dan aku tidak cantik, kau juga tidak perlu menjadi pangeran tampan, arra?”

Bruk!

Satu kesialan yang seolah selalu menempel padaku adalah sikap cerobohku, seperti saat ini aku menabrak seorang dengan sangat keras membuat tubuhku tersungkur diatas sebuah tubuh, MWO??? Tubuh?? Kuhirup aroma manis tubuh itu, aroma memabukkan yang pernah menjeratku,

“Leeteuk-ssi?” aku terbelalak dengan mulut ternganga sementara pria yang sedang tertindih tubuhku menyeringai seperti demon menemukan mangsanya.

Sesak seketika, aroma manis itu berdesakan memaksa masuk kedalam indra penciumanku, dia satu-satunya pria dengan aroma manis yang pernah kutemui. Aku ingat betul, bagaimanapun dulu selama hampir dua tahun dia lah yang menemaniku, mengisi hidupku, menghias hariku tapi dia juga lah yang menyakitiku setengah tahun yang lalu, dia lah yang dengan tega mencium gadis lain dibelakangku.

“Hati-hati kau bisa saja jatuh cinta lagi padaku!” lagi-lagi dia merendahkanku, pria ini benar-benar memancing emosiku,

“Cih jangan bermimpi kau!” kataku ketus, susah payah aku bangun untuk menghindarinya tapi dengan cepat ia menahanku,

“Pacarmu pasti berpikir iya!” kata sambil tersenyum licik,

“Apa kau bilang?” dia berlalu tanpa mengatakan apa pun lagi, kutatap lingkungan sekitarku banyak yang melihat kejadian tadi, mungkin saja Shindong oppa melihatnya juga, “Andwae!”

TBC

ini FF pertama diblog ini sebenernya cuma baru sempet dilanjut, kayaknya ga panjang-panjang banget sich ya liat aja nanti *smirk* comment if you want, cuz I won’t to force you!

It Was You

Udara sore hari yang terasa dingin oleh guyuran air hujan itu seperti membekukan aktivitas rumah itu, Ailen masih terpaku memandangi sebuah bingkai berwarna kecoklatan yang di letakkannya diatas meja belajarnya.

Gadis itu masih terus memandangi bingkai itu sambil duduk diatas ranjangnya, matanya tak berkedip meski tubuhnya masih enggan beranjak. Didalam bingkai tersebut ia melihat sebuah foto yang menggambarkan kedekatan antara 5 orang sahabat, Dennis seorang pria berwajah imut dengan senyum hangat, Andrew pria super tampan dengan lesung pipit yang menghiasi kedua pipinya, Bryan yang memamerkan senyum mematikan andalannya, Marcus yang diam tanpa ekspresi apa pun dan tentu saja Ailen yang berdiri ditengah dengan senyum sederhananya. Continue reading