In Young Noona, Nan Neol Saranghae!

Title: In Young Noona, Nan Neol Saranghae!
Author: Mentari Lacamara
Rating: AU
Genre: Family
Main Cast: Park In Young and Park Jung Soo
Other Cast: Park Ri Rin and Kim Heechul
Summary: Ririn bosan hidup diantara dua gunung es, ia berharap dapat menjadi matahari yang mencarikan es itu dengan sinarnya yang hangat.. *summary macam apa ini?*
Disclaimer: Park In Young and Park Jungsoo belong their parent, Park Ririn belong Siwon *????*
WARNING! Cerita keluarga yang boring dan aneh, yang ngga suka cerita tanpa bumbu-bumbu ‘pacaran’ *?* mending cabut sekarang ^-^

Ririn mengaduk segelas coklat yang masih mengepulkan asap, udara malam sangat dingin sama sekali tak cocok seorang gadis sepertinya tapi ini lah nasib seorang insomnia yang seperti kelewar meski malam mata masih saja tak mau terpejam

KRING~

Ririn meletakan gelasnya lalu kemudian mengangkat gagang teleponnya, “Yoboseyo?” sapanya, “Ne Oppa.. ne! Annyeong!” Ririn meletakkan kembali gagang telepon tersebut dengan gusar gadis itu menyeruput susunya hingga habis dan berlari menuju pintu kamarnya.

Gadis itu menghempaskan tubuhnya diranjang ukuran King Size miliknya, meski lelah matanya masih saja tak mau berkompromi,

drrrttt…. drrrttt…

Dirabanya kasurnya mencari dimana tadi ia meletakkan ponselnya, “Dapat!” serunya saat berhasil menemukan ponselnya,

“Aku tidak pulang malam ini jadi tidak usah menungguku, beritahu Jungso! Kau jangan tidur terlalu malam, tidak baik! Lekas tidur dan jangan lupa mengunci semua pintu dan jendela!

Ririn tersenyum simpul membaca pesan yang baru saja dikirim sang kakak, In Young tak beda jauh dengan di ucapkan oleh si penelpon, Jungsoo. Tanpa membalas pesannya gadis itu memejamkan matanya berusaha memasuki alam mimpi yang sejak tadi sudah menantinya.

“Noona..” Jungsoo menatap lirih sang kakak yang kini berdiri seraya bertolak pinggang, ia sendiri sedang terduduk di pinggir jalan yang sepi dengan seragam putih yang agak kotor sementara di sudut bibirnya mengalir cairan merah kental yang hampir mengering.

“Yaa apa yang kalian lakukan pada adikku?” amuk In Young, dengan mata elangnya yang tajam gadis berumur 12 tahun itu menatap sinis segerombolan anak-anak sekolah dasar yang sejak tadi mengerjai adiknya. In Young menghela napas kasar dan bersiap memukul anak-anak nakal itu dengan stik golf yang di curinya dari ruang kepala sekolah namun anak-anak nakal itu dengan gesitnya berlari menghindari In Young, gadis itu tak mau diam dia hampir saja mengejar mereka kalau saja tak di cegah Jungsoo.

“Biarkan saja Noona, jangan perpanjang masalah, ku mohon… kita pulang saja!” pinta Jungsoo yang tentu saja di iyakan oleh sang kakak.

“Onnie… Oppa…” Ririn berlari kecil menghampiri kedua kakaknya, gadis kecil yang siap masuk sekolah dasar itu mengusap sudut bibir Jungsoo pelan,

“Aww..” keluh Jungsoo membuat Ririn menurunkan tangannya panik,

“Neo gwaenchanayo Oppa?” tanya Ririn khawatir.

Jungsoo tersenyum tipis, “Ne.. nan gwaenchanayo!”

“Onnie.. apakah Oppa dijahili teman-temannya lagi?” tanya Ririn polos, In Young tersenyum singkat dan mengangguk mengiyakan.

In Young menatap adik laki-lakinya yang tertidur di kamarnya, gadis itu bisa melihat rasa sakit dan lelah yang jelas terpancar di wajah adiknya tapi setidaknya kejadian itu sudah berlalu, “Umma… pindahkan saja Jungsoo!” rengeknya pada sang ibu.

Sang ibu menatapnya lembut, “Aniya!” tolaknya.

In Young menarik tangan ibunya, “Umma… teman-temannya jahat, biarkan dia sekolah denganku saja Umma!”

Lagi, sang ibu menggelengkan kepalanya sebagai tanda penolakan.

“Jungsoo, jaga adikmu ya!” Jungsoo mengagguk patuh saat sang ayah menyerahkan Ririn adiknya. Ini adalah hari pertama Ririn bersekolah di sekolah dasar, gadis itu meminta masuk sekolah yang sama dengannya dan sebagai kakak yang baik ia berjanji akan menjaga adiknya dengan baik.

“Oppa mereka kenapa?” Ririn menatap takut segerombolan anak laki-laki yang tengah menghadang jalannya, Jungsoo diam tak menjawab dan langsung menarik tangan Ririn mencari jalan lain, “Oppa mereka mengejar kita!” rengek Ririn merasa takut, Jungsoo tak bergeming dia menatap lurus ke depan, bukan karena tak mempedulikan adiknya tapi karena rasa takutnya.

Memang benar Jungsoo adalah seorang pengecut, dia sudah menjadi anak tertindas sejak hari pertamanya di sekolah jadi ia tak akan membiarkan adiknya mengalami hal yang sama dengannya, “Yaa!” Jungsoo tercekat mengehentikan langkahnya, seorang anak bernama Kim Dongchan itu tiba-tiba saja menghadang langkahnya, “Mau kemana kau anak manja?” tanyanya mengejek.

Jungsoo menarik napas dalam berusaha mengumpulkan keberenaian dalam dirinya, “Ini siapa? Adikmu?” tanya Jinji seraya mengusap pipi Ririn lembut,

“Yaa lepaskan!” Ririn menghempaskan tangan anak itu dengan kasar membuat anak laki-laki itu mendengus kesal,

“Yaa berani sekali gadis ini?”

“Kau lupa ya? Gadis-gadis di keluarga Park itu galak dan menakutkan, berbanding terbalik dengan yang pria!”

“Wae ire?” Ririn melotot kesal mendengar ejekan mereka tapi sebelum iya berbicara banyak Jungsoo menariknya berlari menjauhi anak-anak nakal itu, “Yaa oppa apa yang kau lakukan?” Ririn berusaha melepas tangan Jungsoo tapi anak itu mencengkram adiknya dengan sangat kuat.

“Ririn-ah ku mohon jangan berhubungan dengan mereka!” Jungsoo mengantar Ririn sampai kelasnya, ia memperhatikan sekitarnya berharap tak ada satu pun temannya yang mengikutinya, “Mereka anak nakal, aku tak mau kau dekat-dekat dengan mereka!” imbuhnya.

Ririn memutar bola matanya yang kecoklatan sejurus kemudian gadis itu menganggukan kepalanya setuju, “Kalau oppa yang menyuruh pasti aku turuti!”

Lonceng berdering kencang menandakan waktu istirahat, suara riuh anak-anak sekolah dasar bergermuruh menghiasi setiap ruang, beberapa di antara mereka sibuk bermain dengan teman sebayanya, sementara yang lain menghabiskan waktunya dikantin dan hanya beberapa yang melangkahkan kakinya ke ruang perpustakaan.

Seorang anak gadis dengan rambut terkepang dua berjalan riang membawa sekotak bekal makan siangnya, gadis itu hendak pergi mencari kakaknya untuk menemaninya makan siang. Gadis itu menatap ruang kelas di depannya, sebuah papan bertuliskan 5-1 tertempel erat dipintu kayu itu, dengan mengendap-endap gadis itu menjulurkan lehernya demi mengintip suasana di dalam kelas.

“Kau cari siapa gadis manis?” nyaris saja kotak bekalnya terjatuh, ia menoleh ke arah sumber suara sekitar 5 anak laki-laki berdiri mengelilinginya dengan tatapan yang susah diartikan.

“Yaa mau kemana kau?” tanya salah satu di antara kelima anak itu, gadis itu tak menggubrisnya ia mengambil langkah cepat menjauhi kelimanya.

“Ririn!” gadis itu menoleh cepat menyadari sebuah suara yang sangat familiar ditelinganya, “Kemari!” seorang anak laki-laki tampak bersembunyi di balik tembok, tangannya memberi isyarat kepada Ririn untuk segera menghampirinya.

“Oppa,” Ririn dengan segera berlari menghampiri sang kakak sementara sang kakak lagi-lagi menyeretnya, kali ini ke perpeustakaan sekolah. “Oppa untuk apa kita kemari?” tanya Ririn polos.

“Aku takut mereka mengganggumu!” jawab Jungsoo seadanya,

“Oppa aku mencarimu!”

“Aku tahu!”

“Kau bilang kelasmu itu 5-1 kan? Tapi kenapa anak-anak nakal itu yang ada disana?”

Jungsoo menghembuskan napas berat, “Mereka teman sekelasku!”

“Eww.. kenapa harus bertemu dan kenal dengan anak-anak nakal itu?” Ririn membuka kotak bekal yang sejak tadi di peluk erat olehnya, telur gulung dan kimchi kesukaannya yang tersusun rapih dengan hiasan-hiasan lucu yang dibuatkan ibunya sekarang sudah berantakan tak berbentuk. Ririn mengerucutkan bibirnya sebal, karena kelima anak yang membuatnya kaget serta berlari dengan kakaknya lah makanan cantiknya jadi seperti itik buruk rupa.

Jungsoo terkekeh ringan menyadari kekesalan adiknya yang sejak tadi memandangi bekalnya, “Maaf ya!” Jungsoo mengusap kepala adiknya, “Lain kali makan sendiri, tidak usah cari oppa!”

Ririn menggeleng pelan, “Gwaenchanayo! Dimakan olehku juga tambah hancur!” Jungsoo dan Ririn tertawa bersama lalu memakan bekal mereka.

Air mata itu mebentuk aliran sungai kecil diwajah cantiknya, suara tangisnya terdengar pilu meski ada suara lain yang terdengar jauh lebih pilu, “Keumanhae!” teriakan itu nyaris tak terdengar mengingat suaranya yang tengah menagis terdengar parau.

“ANDWE!!” Jungsoo berteriak jauh lebih kencang saat Jinji berjalan mendekati Ririn adiknya, entah mengapa anak nakal itu selalu berusaha mendekati Ririn adiknya,

“Mwohaesseo?” sebuah tangan menghempaskan tangan Jinji yang hampir menyentuh pipi Ririn untuk kedua kalinya, “Jukeosipho?” suara bernada dingin si pemilik tangan itu sontak membuat bulu roma Jinji meremang.

Jinji menoleh takut-takut “Noo.. Noona?”

“Yaa Jinji khaza!” seorang anak laki-laki dengan seragam yang sangat acak-acakan menarik Jinji menjauh sementara ketiga temannya yang lain sudah berlari sejak In Young datang.

“Oppa…” Ririn berlari menghampiri kakaknya yang babak belur, Ririn menangis lagi dan memeluk sang kakak dengan sangat erat, “Mianhaeyo, jalmothaeseoyo!” sesal Ririn.

In Young menghampiri kedua adiknya, “Uljima!” jemarinya dengan lembut mengusap pipi pucat Ririn, “Kau tak apa?” tanyanya pada Jungsoo yang dijawab anggukan singkat, “Khaza kita pulang!”

Kali ini sang ibu tak bisa lagi menolak keinginan In Young untuk memindahkan Jungsso dari sekolahnya bahkan ia juga bertekad memindahkan Ririn bersama Jungsoo, “Dengar In Young, Umma memindahkan Jungsoo karena Umma tak mau sesuatu yang buruk menimpa kedua adikmu bukan berarti kau boleh terus memanjakannya!”

“Aku tak pernah memanjakannya Umma” elak In Young,

“Kau terlalu memanjakan Jungsoo makanya dia jadi seperti ini sekarang!”

“Itu karena aku menyayanginya!” In Young yang tak suka berdebat panjang lebar dengan ibunya segera bergegas meningalkan kamar ibunya, “Dia kan masih kecil.. wajar kan jika aku memanjakannya?” gumam In Young.

Jungsoo mendengarnya, ia mendengar dengan sangat jelas perbincangan kakak dan ibunya bahkan gumaman pelan sang kakak pun terdengar olehnya, “Aku bukan anak kecil lagi Nonna!” Jungsoo mengepalkan kedua tangannya, “Aku bisa buktikan kalau aku bukan lah anak pengecut yang manja dan selalu berlindung dibawah ketiak kakaknya!”

Jungsoo bukan lagi Jungsoo yang dulu, sejak hari kepindahannya Jungsoo bukan lagi anak pengecut yang menutup diri. Ia membuktikan janjinya pada dirinya sendiri, sekarang Jungsoo bergaul dengan siapa pun, tak pernah lagi membuat repot kakaknya karena diganggu temannya dan bahkan sekarang ia selalu melindungi adiknya jika gadis kecil itu diganggu oleh teman-temannya.

“Habis dari mana saja kau Ririn?” tanya In Young dingin, hari ini kedua orang tua mereka tak ada di rumah karena sang ayah sedang dinas di luar kota dan sang ibu menemani. Saat ini di rumah itu hanya ada In Young, Jungsoo, Ririn dan seorang pelayan.

‘A.. aku.. dari rumah temanku..” jawab Ririn gugup, gadis yang lima tahun lebih muda dari In Young itu terus menunduk tak berani menatap kakaknya,

In Young melipatkan tangannya didada, “Untuk apa?”

“Err..”

“Mengerjakan tugas?” Ririn menggeleng pelan, “Belajar kelompok?” lagi-lagi Ririn menggeleng, “Lalu untuk apa?” suara In Young meninggi membuat Ririn semakin takut dengannya,

“Mianhaeyo, jalmothaeseoyo!” sesal Ririn,

“Ne! Kau memang salah, kau ini masih kecil Ririn-ah! Kau mau jadi anak nakal dan pembangkang ya?” cecar In Young.

Ririn menunduk sambil terus terisak, “Mianhaeyo Onni..”

“Aku akan menghukummu, aku tidak akan mengijinkanmu bermain setelah pulang sekolah, arra?”

Ririn mengangguk lemah, “Arraseo Onni!”

Ririn tak bisa tidur malam ini, ia terus terisak sambil memeluk boneka sapinya, “Rin..” Ririn dengan cepat menyeka bekas air mata yang mengalir di pipinya, “Rin.. gwaenchanayo?” Ririn menggeleng walau dalam hati ia merasa tak baik-baik saja.

“Soo Oppa untuk apa kesini?” tanya Ririn dengan suara parau,

“Aku mengkhawatirkanmu!”

“Gwaenchana.. Oppa kembali lah tidur!”

Jungsoo tersenyum lembut, “Aku tidur disini saja, aku mau menemanimu!” Ririn mengangguk setuju dan mereka pun tertidur bersama.

In Young masih terjaga selarut ini, sedikit menyesal karena ia membentak adik bungsunya. Bagaimana jika Ririn jadi membencinya? Bagaimana jika Ririn trauma dan menjauhinya? Apakah caranya tadi benar? Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja mengelilingi otaknya membuatnya tak tenang hingga tetap terjaga hingga selarut ini.

Merasa kegelisahannya tak hilang juga In Young memutuskan datang ke kamar Ririn, baru saja ia akan mengentuk pintu kamar Ririn ketika di dengarnya suara Ririn yang tengah menangis dan tiba-tiba saja berhenti ketika Jungsoo menghampirinya. In Young berdiri di ambang pintu kamar Ririn yang tak tertutup rapat, ia diam tak bersuara agar tak menganggu percakapan kedua adiknya.

Gadis itu tahu kalau Ririn tak suka dibentak olehnya, makanya ia menangis tapi di depan Jungsoo, Ririn berusaha bersikap biasa seolah tak ada hal buruk yang sedang terjadi, ‘Babo.. kakak macam apa aku?’ rutuk In Young dalam hati. Lama ia berdiri disana, Ririn sudah tidur setelah Jungsoo menina bobokan sang bungsu, In Young tak sadar kalau Jungsoo sekarang tengah berdiri di sampingnya, “Soo..” In Young tercekat melihat adiknya.

“Wae?” tanya Jungsoo jengkel,

“Kenapa caramu bertanya tidak sopan seperti itu?”

“Kenapa kau membentak adikmu?” In Young tak bisa menjawab, ia tahu Jungsoo sedang marah karena sekarang Jungsoo menatapnya dengan tatapan dingin, “Jawab aku Noona!” desak Jungsoo.

“Kau tak pernah seperti ini Soo-ah!”

“Kau juga..”

“Aku kakakmu Soo!”

“Dan Ririn adikmu!” bentak Jungsoo yang tanpa disadarinya mebangunkan tidur Ririn, “Aku membencimu Noona!”

In Young menatap tak percaya, “Mwo? Neo!”

“Naega wae?” tantang Jungsoo, In Young menghela napas kemudian pergi meninggalkan Jungsoo.

Ririn membanting alarmnya kesudut kamarnya, “Aissh.. mimpi itu lagi!” gerutunya. Gadis itu kerap kali mendapatkan mimpi itu, mimpi tentang kedua kakaknya yang bertengkar, dulu In Young dan Jungsoo adalah sepasang adik-kakak yang kompak dan saling menyayangi. Tapi sejak kejadian malam itu mereka berubah, Jungsoo tak pernah lagi menyapa sang kakak bahkan jika ada kedua orang tua mereka, hingga In Young memutuskan bersekolah di luar negeri.

“Aku dan kakakku memang tak terlalu dekat, In Young Noona ada di luar negeri selama bertahun-tahun untuk menyelesaikan sekolahnya, kami jadi jarang bertemu..” begitu lah pengakuan Jungsoo tiap kali disinggung masalah kedekatannya dengan sang kakak.

Jungsoo menjadi seorang trainee di sebuah agensi ternama di Korea sejak umurnya 17 tahun dan resmi debut sebagai penyanyi di usianya yang ke 22 sejak saat itu ia tak pernah lagi tinggal di Incheon bersama keluarganya, hanya sesekali ia pulang ketika ia mempunyai waktu luang. Sayang sekali karena disaat Jungsoo sibuk mengukir karirnya In Young baru kembali ke kampung halamannya.

Ririn bukannya tak peduli dengan kedua kakaknya, ia tahu persis kejadian malam itu, ia tahu keduanya bertengkar karena dirinya. Gadis itu bahkan menceritakan peristiwa itu kepada orang tuanya tapi baik In Young mau pun Jungsoo sama-sama pribadi yang keras.

“Mereka itu sebenarnya sudah saling memamaafkan sejak lama.. hanya saja selain keras kepala mereka sama-sama punya rasa gengsi yang tinggi!” itu lah yang sering dikatakan sang ayah ketika Ririn mengeluhkan masalah kedua kakaknya.

“Harusnya Jungsoo melihat betapa bersedihnya In Young Noona saat ia kecelakaan dulu..” Ririn mengerucutkan bibirnya, bukan hanya ayah, ibunya saja bahkan Heechul pun mengatakan hal yang sama.

“Oppa.. semalam mereka tidak kembali ke apartement kami!” keluh Ririn,

“Jungsoo sampai dorm kami sangat larut!” adu Heechul,

“Benarkah?” Hecchul mengangguk pelan dan kembali menyeruput kopinya. “Kalau onni tidak ada oppa pasti pulang begitu pun onni, pasti pulang saat oppa pulang!”

“Tapi sekarang keduanya sama-sama tak pulang?”

Ririn mengangguk pelan, “Aku ngga tahu onni kemana..”

“Rin.. mereka sudah dewasa, kelak akan ada saatnya mereka menyadari kesalahan mereka!”

“Ini hanya sebuah kesalah pahaman oppa!”

“Salah paham yang berkepanjangan!” ralat Heechul, “Karena keduanya masih belum mau berpikir secara dewasa!”

Ririn medelak dalam tawa membuat Heechul melototinya, “ELF dan Petals harus meliat betapa dewasannya dirimu oppa!”

Hecchul menekuk wajahnya, “Aku tidak bisa merusak image yang sudah tercipta, Super Junior Heechul yang dilihat banyak orang dengan Kim Heechul yang dikenal para member dan keluargaku adalah Kim Heechul yang berbeda!”

“Konyol! Lalu seperti apa dirimu dihadapan kekasihmu?”

Heechul menyeringai, “Tanyakan saja padanya!”

Matahari semakin tinggi memamerkan sinarnya, nyanyian burung dipagi hari pun perlahan mulai tak terdengar lagi digantikan suara deru kendaraan, In Young masih mengerjapkan matanya membiasakan dengan sinar silau yang masuk melalui celah jendelanya.

“Kau sudah bangun?” suara seorang wanita yang masih nampak cantik di usianya yang senja itu menyadarinya dari lamunan.

“Umma..” katanya dengan suara parau, pengaruh dari tidur panjangnya.

“Apakah tidurmu nyenyak semalam?” tanya sang ibu seraya membelai lembut rambutnya.

In Young tersenyum tipis kemudian mengangguk singkat, “Umma.. mianhaeyo..” katanya lirih, di peluknya tubuh sang ibu dengan sangat erat, “Aku benar-benar gadis yang menyedihkan!” rutuknya.

“Gwaenchanayo.. semua sudah berlalu sekarang!” ujar sang ibu bijak, di usapnya pungung sang anak dengan penuh kasih sayang, “Kau harus lihat hikmah dibalik kejadian ini!”

Mata elang gadis itu menerawang sementara otaknya kembali mengingat kejadian semalam, “Yaa apa yang kau lakukan?” marahnya saat seorang pria berjas hitam itu menghampirinya. Hari itu In Young baru saja selesai latihan untuk debutnya di panggung musikal, agak telat untuk usianya tapi baginya tak ada kata terlambat kecuali bekerja keras.

“Neo! Kau Park In Young, kakaknya Park Jung Soo?” tanya pria itu dengan bahasa banmal yang menjengkelkan, In Young menatap pria itu takut-takut, di dalam ruang ganti ini ia baru saja akan mengganti bajunya tapi entah dari mana pria itu bisa masuk ke dalamnya. Mungkin ia lupa mengunci pintunya, “Kau lupa denganku Noona?” kata pria itu sedikit lebih sopan dari sebelumnya.

In Young menarik napas dalam berusaha mengilangkan ketakutannya, “Siapa kau?”

Pria itu menyeringai senang, “Aku? Aku orang yang sangat mencintaimu Noona!”

In Young menyeret mundur langkahnya secara perlahan, keringat dingin sudah keluar membahasahi tubuhnya sejak tadi, rupanya gadis seperti In Young pun bisa juga merasakan ketakutan seperti ini. Menyesal rasanya memilih pulang paling akhir karena sekarang tak ada satu pun orang yang bisa menolongnya.

“Aku benar-benar tak mengenalmu!” akhirnya In Young berhasil berbicara, meski begitu tubuh gadis itu bergetar hebat karena rasa takutnya, “PERGI KAU!!” pekiknya.

Pria misterius itu semakin senang, dia terus berjalan menghampiri In Young yang punggungnya kini sudah menubruk dinding, “Kau takut Noona?”

“Pergi kau!” teriak In Young lagi membuat pria itu meledak dalam tawa.

Pria itu kini berada persis didepan In Young dan tangannya mulai bermain-main di kulit putihnya, “Yaa.. keumanhae!” marah In Young saat pria itu menyentuh tangannya tapi seolah mengacuhkan makian In Young pria itu malah menyentuh wajah gadis malang itu sesuka hatinya, “Kyaa..” In Young mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga tapi pria itu lebih kuat darinya.

In Young membulatkan matanya saat pria itu semakin nekat menyentuhnya, “Andwe!!”’ teriaknya saat pria itu berusaha melumat bibirnya.

BRRUUUGGGGHHH

In Young membuka matanya yang terpejam, di lihatnya pria itu sedang dipukuli oleh pria lain secara membabi buta. In Young membatu di tempatnya tak ada yang dilakukannya selain diam menatap kedua pria yang tengah berkelahi, mulutnya terkatup rapat tanpa sepatah kata pun.

“Khaza!” seorang pria dengan hoodie+masker hitam menyeretnya menjauh dari ruangan itu In Young menahan langkahnya membuat pria itu menoleh ke arahnya, “Maaf aku tak sadar!” ujar pria itu seraya melepas hoodienya dan menyampirkannya ketubuh In Young, “Ayo!” katanya lagi, kali ini ia menggengam lembut tangan In Young dan membawa gadis itu ke mobilnya yang ia parkir di pinggir jalan.

“Minum lah!” suruh pria itu seraya mengacungkan sebotol air mineral kepada In Young, gadis itu menunduk saja dia tak memberi respon apa pun, “Noona…” panggil pria itu, pundak In Young bergetar hebat sejurus kemudian gadis itu meledak dalam tangisnya.

Pria itu menatap iba ke arah In Young di letakannya botol air mineral tadi di dashboard mobil lalu kemudian menarik In Young kedalam pelukannya, “Uljima!” ujar pria itu, jemarinya membelai rambut hitam In Young dengan sangat lembut, memberikan kenyaman pada In Young. “Gwaenchananyo.. semuanya sudah berakhir!” hibur pria itu.

“Yaa.. jagiya.. gwaenchanayo?” In Young mengerjapkan matanya menyadari sang ibu yang sejak tadi masih bersamanya, “Kau melamun!” kata sang ibu.

“Umma.. aku harus ke Seoul, aku ada urusan!” In Young dengan cepat berlari menuju kamar mandi meninggalkan ibunya yang tersenyum melihat tingkahnya.

Jantung In Young berdetak cepat seiring langkah yang terpacu di kawasan elit Kangnam, senyum manis teretas jelas di wajah cantiknya saat ia berada tepat di depan gedung berlabel SM Ent, “Soo..” panggilnya saat melihat segerombolan pria muda yang sibuk hilir mudik di pelataran gedung.

Salah satu di antara pria itu menoleh dan tersenyum seraya berjalan menghampirinya, tanpa menghiraukan jeritan dari para fans yang tampak berbaris berusaha menghancurkan barisan body guard yang menghalang langkah mereka. Pria itu berjalan santai dan merengkuh gadis di depannya ke dalam pelukannya, gadis itu berbaur ke dalam pelukan pria itu, keduanya lalu saling menatap dan tersenyum. “Soo.. Park Jungsoo.. adikku..” teriakan puluhan gadis remaja yang menamai diri mereka ELF itu pun terdengar makin kencang tatkala pria itu, Jungsoo mencium singkat kening sang kakak.

“IN YOUNG NOONA, NAN NEOL SARANGHAE!!!” pekik Jungsoo sontak membuat para member Super Junior, ELF, manajer dan beberapa orang lain di sekitarnya melongo dalam keterkejutan.

“Onni? Oppa?” Ririn mengerjapkan tak percaya, Heechul yang berdiri di sampingnya terkekeh geli melihat tingkah konyol keluarga Park yang tak pernah ada habisnya.

“See? Mereka sudah dewasa sekarang!”

Mengacuhkan pernyataan Heechul, Ririn melangkah cepat menghampiri kedua kakaknya, “Yaa Oppa!! Apa maksudmu mengatakan itu barusan?” Jungsoo dan In Young menoleh berbarengan dan menatap seorang gadis pendek bersuara cempreng yang tengah melotot sebal ke arah mereka.

“Wae? Aku kan mencintai kakakku, apakah itu salah?” tanya Jungsoo heran, ia tidak sadar dimana letak kesalahannya.

“Kau mengatakannya seperti sedang menyatakan perasaanmu kepada seorang Noona cantik!” cerocos Ririn.

“Noonaku memang cantik!” balas Jungsoo membuat Ririn semakin kesal padanya.

In Young terkekeh ringan melihat Ririn tersenyum kecut mendengar jawaban Jungsoo, ia sedikit berjinjit demi menyamakan tingginya dengan Jungsoo lalu berbisik pada sang adik, “Katakan kau mencintainya juga!” Jungsoo mengangguk dan tersenyum paham.
Jungsoo membalikan tubuhnya menatap puluhan ELF yang sejak tadi berkumpul di depan gedung menanti sang idola datang untuk sekedar menyapa dan memberikan pekikan penyemangat. “Yaa… yeorubun dengar.. aku Park Jungsoo mencintai kakak dan adikku, Park In Young dan Park Ririn!”

Mata Ririn membulat dalam keterkejutan, dengan cepat ia membuang mukanya berusaha menghindari tatapan para ELF, “Yaa aisshh… Oppa itu norak sekali!” gerutu Ritin saat Jungsoo melongok tampangnya yang memerah seperti kepiting rebus.

Jungsoo mencubit pipi adiknya gemas, “Tapi kau senang kan?”

Ririn menggangguk cepat, “Kalian?” bola matanya berputar menatap kedua kakaknya bergantian.

“Wae?” tanya In Young.

“Apakah?” Ririn menatap ragu kedua kakaknya yang kini menatapnya seraya menggangguk seolah mengatakan, ya kami tahu.

“Apakah masih perlu di tanyakan?” tanya Jungsoo dan In Young bersamaan. Ririn menggeleng cepat sejurus kemudian ia memeluk kedua kakaknya.

The End

Cerita norak yang sebagiannya aku buat berdasarkan ceritanya Soo Oppa dan Young 0nni >< berarti kisah mereka norak dong? *ditendang Soo Oppa dan Young Onni* tapi tidak semuanya yang saya tulis ini BENAR, ada masalah antara Park Bersaudara di masa lalu dan saya rasa saya tidak bisa sok tahu menyelami masalah yang bukan milik saya *apa dech* dan buat kehadiran Rin Onni dalam FF ini, anggap lah uri Alice Park ini memang real adiknya uri Dennis Park xD dan ini adalah ceirta KELUARGA MURNI TANPA EMBEL-EMBEL CINTA *cinta antar 2 sejoli or lebih* PERTAMA yang saya bikin, jadi kalau jelek, tidak bermutu, membosankan serta banyak kekurangan mohon di kritik plus di kasih saran jangan diem aja!
Ok GOMAWO ALL \\^^//

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s