Brides Maid

Cast: Jang Hyunseung, Jeon Jiyoon, Nam Jihyun, Yoon Doojoon, etc
Rating: AU
Genre: Angst, Hurt
Summary: Ketika seorang pendamping mempelai wanita menjadi pengganti pengantinmu …
Disclaimer: All chara belong to God, their family, Cube Ent, Woolim Ent and ofcourse their fans but this story are mine. Thanks for someone who inspired me about the plot

Gereja Presbiterian, Seoul

Hari itu, hari paling bersejarah untuknya. Jang Hyunseung dengan balutan tuxedo putih gading, senada dengan warna gereja dan karangan lili putih tanda kesetiaan yang tergantung di langit-langit gereja serta dinding-dinding yang juga didominasi warna suci itu, berdiri di depan altar dengan senyum yang terus merekah di bibirnya. Penyuka kartun Pororo itu bahkan masih sempat menoleh ke arah belakang mengintip keadaan gereja yang nampak hikmat menjelang perayaan sumpah setianya.

Masih segar dalam ingatannya senyum malu dan rona bahagia Nam Jihyun, kekasihnya. Malam itu dengan mengatakan kalau dirinya ingin mengajak sang kekasih merayakan White Day sebagai balasan malam Valentine sebulan yang lalu, Hyunseung rupanya bersiap melamar gadis yang sejak 5 tahun ini menjadi kekasihnya. Jihyun yang bahkan sudah menunggu kepulangannya dari wajib militer selama 2 tahun lebih dengan yakin mengiyakan permintaan kekasihnya.

Menarik napas yang dalam, Hyunseung berusaha mengendapkan rasa gugupnya. Rasa was-was dan takut selalu saja menyelimutinya sejak 3 hari belakangan, tapi demi menghadapi hari ini ia membuang jauh perasaan tersebut. 15 menit ia berdiri di altar, harusnya Jihyun sudah berada di sampingnya dan mengucapkan ikrar dengannya. Demi Tuhan pria itu berjanji akan mencubit pipi Jihyun saat ia datang nanti, bukankah ini hari paling bersejarah bagi hidup mereka?

Sementara itu di lapangan parkir Nam Woohyun, adik Jihyun terlihat panik menunggu sang kakak yang bahkan belum sampai. “Kau di mana noona, kenapa lama sekali?” gumamnya kesal, meski begitu raut khawatir terukir jelas di wajahnya.

“Woohyun-ssi bagaimana?” seorang gadis dengan rambut sebahu dengan gaun putih yang cantik berlari menghampirinya, mengatur napas sebentar gadis itu lalu melanjutkan pertanyaannya, “Jihyun-ssi odiega?” tanyanya panik.

Naega mollayo Jiyoon-ssi,” jawab Woohyun lemas, “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyanya dengan nada menuntut.

Mwo? Kenapa kau bertanya seperti itu kepadaku?” tanya gadis bernama Jeon Jiyoon itu.

Ah mianhamnida Jiyoon-ssi!” sesal Woohyun menyadari perubahan wajah Jiyoon. Jiyoon mengangguk paham keduanya kini terdiam seraya menanti kedatangan Jihyun dan ayahnya. Seolah mengerti dengan apa yang baru saja dilihatnya Geurim segara berlari menghampiri orang tuanya dan memberitahukan apa yang baru dilihatnya.

“Hubungi Tuan Nam!” titah tuan Jang, Junhyung teman sekaligus orang kepercayaan Hyunseung saat itu juga menghubungi tuan Nam dan menanyakan keadaan Jihyun.

KyungHee Medical Center – Dongdaemun, Seoul

Yoon Doojoon meremas dadanya yang terasa ngilu, air mata sudah mengalir sejak tadi dari matanya yang terasa perih dan memanas. Di hadapannya sang gadis yang begitu dicintainya tengah berjuang melawan maut, gadis itu memejamkan matanya dengan wajah yang sangat pucat, sementara dokter berusaha membangunkannya dengan alat pacu jantung, gadis itu dengan keras kepalanya masih juga tak mau bangun bahkan untuk sekedar mendengar panggilan sang ayah.

Menatap layar kadiograf dengan perasaan cemas Doojoon terus berdoa dalam hati untuk gadis itu, gadis yang sejak pertama bertemu sudah membuatnya jatuh ke dalam manis dan getirnya cinta. Betapa tidak, Nam Jihyun, gadis itu dengan seenaknya mencuri hatinya setelah lebih dulu menarik Jang Hyunseung sahabatnya untuk masuk ke dalam perangkap cinta yang sama.

Menjadi gadis tercantik dan terpopuler, Jihyun malah tergila-gila pada pria berkepribadian 4D bahkan mengaku bahwa dirinya juga mempunyai sifat yang sama dengan kekasihnya. Tapi siapa yang mau menjadi saingan seorang Jang Hyunseung? Demi Tuhan dia begitu sempurna di mata para gadis, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya, terlebih suara emas yang selalu berhasil melelehkan hati siapa saja yang mendengarnya. Tentu saja Doojoon bukan tipe ‘pagar makan tanaman’ yang akan merebut kekasih sahabatnya, meski mencintai Jihyun secara diam-diam toh pria itu tetap merasa bahagia melihat Jihyun bersama Hyunseung. Bahkan saat Hyunseung pergi melaksanakan tugasnya sebagai tentara Negara, Doojoon sama sekali tak berniat merebut gadis itu.

Tapi sekali saja, sekali saja dalam hidupnya ia mengatakannya, meluapkan perasaannya yang terlalu lama di pendam, ia tak peduli apa yang akan dikatakan orang lain tentang dirinya yang menyatakan cinta pada gadis yang yang akan menikah dengan sahabatnya. Doojoon hanya berpikir bahwa kesempatan itu tak selalu datang kepadanya terlebih saat ia tahu mengenai penyakit yang diderita gadis pujaannya itu. Sayang Jihyun menutupinya dari semua orang, ia hanya mengatakan pada sang ayah, sementara Doojoon sendiri tak sengaja mengetahuinya saat berpapasan dengan Jihyun di rumah sakit sebulan yang lalu.

Geurim tertawa miris mendengar keputusan sang ayah, sementara sang ibu tengah memintanya berdandan untuk menjadi Brides Maid dan Junhyung bergegas menghampiri Hyunseung sebagai Best Man. Geurim melihat gadis cantik di sampingnya, walau hanya melalui ekor matanya saja Geurim tahu dengan jelas raut kegelisahan yang terlukis jelas di wajahnya, sementara Woohyun sendiri kini tengah menahan tangisnya setelah mendengar penjelasan sang ayah melalui telepon dengan tuan Jang.

Ahjumma…” sekali lagi gadis itu memohon dengan wajah memelas, tetapi permintaannya itu hanya dijawab dengan sebuah gelengan. Memaki dirinya dalam hati, Geurim menyesal dengan apa yang terjadi sekarang, tapi tak ada yang bisa dilakukannya sekarang kecuali diam dan menuruti keinginan orang tuanya, hatinya kini bahkan sudah menangis.

Gereja Presbiterian, Seoul

Junhyung menghampiri Hyunseung dengan tubuh yang bergetar pria itu menarik napasnya dalam-dalam, menepuk bahu Hyunseung lalu membisikan pesan dari Tuan Jang. Hyunseung terbelalak dalam posisinya yang mematung, wajahnya seketika berubah menjadi pucat, beberapa detik setelahnya dengan senyum yang dipaksakan ia bertanya pada sahabatnya : “Kau mau mengerjaiku Joker?”

Junhyung menggeleng, “Ini bukan April Mop Hyunseung-ah!” katanya menghancurkan harapan Hyunseung.

Hyunseung mengepalkan kedua tangannya dan menggeleng kuat, “Aniyo, ini tidak benar Junhyung aku harus berbicara dengan appa!” katanya tapi kemudian ditahan oleh Junhyung.

“Demi nama baik keluargamu dan permintaan terakhir Jihyun kumohon laksanakan pernikahan ini sampai selesai Hyunseung-ah!” mohon Junhyung, Hyunseung tak peduli sikap keras kepalanya membuat ia dengan kasar menepis tangan Junhyung, tapi kemudian pintu Presbiterian terbuka membuat Hyunseung kembali mematung di tempatnya.

“Jiyoon-ssi?” gumamnya tak percaya.

KyungHee Medical Center – Dongdaemun, Seoul

Awan mendung menyelimuti kota Seoul, Doojoon menepuk pundak tuan Nam dan membesarkan hatinya walau hatinya pun terasa hancur, Jihyun telah pergi, gadis itu kini tak kan bisa lagi diraihnya.

Appa, katakan pada Hyunseung… katakan padanya bahwa aku sangat mencintainya akh… katakan padanya kalau aku akan selalu berada akh… di sisinya… appa tolong…” pesan terakhir Jihyun masih terngiang di telinganya, bahkan di saat menahan rasa sakitnya Jihyun masih tetap tak bisa melupakannya, bahkan di saat-saat terkahirnya Jihyun masih tetap memujanya.

“Hyunseung-ah mianhae…” sesalnya, bagaimana bisa ia masih berharap pada Jihyun padahal jelas sekali gadis itu hanya mencintai Hyunseung hingga akhir hidupnya, “Jihyun-ah mianhanda, saranghanda…”

Gereja Presbiterian, Seoul

“Jang Hyunseung-ssi sekali lagi kutanya padamu, apakah kau bersedia mendampingi Yoon Jiyoon calon istrimu dalam susah dan senang, sakit dan sehat, serta melindunginya dan mencintainya sampai akhir hidupmu?” ini ketiga kalinya pendeta bertanya kepada Hyunseung tapi hingga saat ini pria itu masih enggan untuk mengucapkan ikrarnya.

“Hyunseung-ah kumohon demi Jihyun.” bisik Junhyung yang masih setia berdiri di belakangnya. Mendengar nama gadis yang paling dicintainya jelas semakin menambah rasa sakit dalam hatinya tapi kemudian Hyunseung menguatkan dirinya untuk mengucapkan ikrar itu.

Ye, naneun gikkeoi.” katanya nyaris tak terdengar namun pendeta mendengarnya ia kemudian menanyakan hal yang serupa kepada Jiyoon, gadis itu sejak tadi menahan tangisnya tapi demi janjinya kepada ayah Jihyun dengan berat hati gadis itu berikrar.

“Apakah ada yang keberatan?” tanya pendeta, tapi tak satupun yang menjawab maka ia mempersilahkan Hyunseung mencium mempelai wanita.

Konyol, ini benar-benar konyol baginya, ia mencium gadis itu, gadis yang dikenalkan oleh Jihyun sebulan yang lalu sebagai teman satu labelnya, ya Jihyun adalah seorang model. Teman yang menurut Jihyun akan menjadi pendamping untuknya saat kelak mereka menikah, teman yang bahkan baru beberapa kali bertemu dengan Hyunseung. Dan tepuk tangan dari para tamu seolah melengkapi kehancuran hatinya, saat ini yang ia rasakan adalah semua orang mengejeknya karena pengantinnya pergi dan memintanya menikahi pendampingnya. Sungguh menyedihkan, ia bahkan tak berani menatap teman-temannya ketika Jiyoon melempar bunganya.

Seolah tak cukup sampai di sini, Hyunseung masih harus melaksakan resepsi pernikahannya bersama gadis asing itu, tak bisakah mereka melihat bahwa ia sudah menangis darah saat ini, tak bisakah mereka memberinya kesempatan untuk melihat kekasihnya. Maka tak ia pedulikan pesta ini, seperti sebuah boneka yang menuruti kemauan majikannya, seperti itulah ia saat ini, tersenyum seperti permintaan orang tuanya, berdiri di samping Jiyoon juga seperti permintaan mereka. Ia sendiri ragu dengan perasaan Jiyoon, gadis itu tak beda jauh darinya, hanya diam dan tersenyum terpaksa saat menyambut para tamu yang bahkan tidak dikenalnya.

Nam’s House

Tangisan yang begitu menyayat hati terdengar di setiap sudut rumah, Hyunseung bahkan masih tak mau beralih dari peti kaca sang kekasih. Jiyoon sendiri hanya menatap kosong peti itu sejak kedatangannya, masih segar dalam ingatannya saat Jihyun menceritakan betapa bahagianya ia memiliki Hyunseung dan betapa beruntungnya ia akan dipersunting oleh putra sulung keluarga Jang tersebut. Tapi semua itu seolah menguap habis bersama kepergiannya, Jiyoon tak bisa lagi mendengar cerita-ceritanya tentang Hyunseung, Jiyoon tak bisa lagi melihat senyum gadis cantik itu, bahkan kini ia merasa telah kehilangan sosok kakak dalam hidupnya.

“Jihyun-ah kajima, jebal kajima, dorawa, dorawa!” tangis Hyunseung, saat peti itu dimasukkan ke dalam tanah, Doojoon lalu menariknya dan menenangkannya.

“Hyunseung-ah uljimarayo, Jihyun benci melihat pria yang lemah,” kata Doojoon memaksanya melihat Doojoon, “Tapi dia mencintaimu, dia mencintaimu seperti kau adalah napasnya, dia mencintaimu hingga tak sempat memikirkan dirinya sendiri, dia bahkan terus bersamamu walau kau tak bersamanya!”

“Dari mana, DARI MANA KAU TAHU ITU DOOJOON-AH?” tuntut Hyunseung.

“Aku tahu, karena aku melihatnya, aku tahu karena aku begitu mencintainya tetapi ia bahkan tak bisa berpaling darimu saat kau tak ada, aku tahu karena dialah yang mengatakannya,” Hyunseung menatap Doojoon tajam, betapa beraninya ia mengatakan perasaannya padahal selama ini ia berusaha untuk menepis kecurigaannya kepada Doojoon, “Tapi kau, kau lebih beruntung dariku Hyunseung-ah karena setidaknya kau pernah memiliki cintanya!”

Hyunseung menatap foto Jihyun, betapa cantiknya ia dalam foto itu, Doojoon benar ia beruntung karena bisa memiliki cinta Jihyun, bukankah ia cinta pertama dan terakhir Jihyun? Betapa naifnya ia jika tak bisa merelakan kepergian Jihyun sementara selama ini gadis itu terus menyimpan rasa sakitnya sendirian. Mendengar erangan Jiyoon, Hyunseung beralih menatap ‘istrinya’ gadis asing itu kini tentu saja tinggal dengannya, bahkan mereka tidur di ranjang yang sama.

Hyunseung menatap gadis itu, ia tidak pernah memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama, sejak jatuh cinta pada Jihyun ia memang lantas menutup hatinya untuk gadis lain. Hyunseung tersenyum menyadari kebodohannya, ia harusnya bisa membuka hatinya untuk istrinya. Jemari Hyunseug menyingkirkan helaian rambut Jiyoon yang mnenutupi wajahnya, gadis itu mempunyai wajah seperti dewi, kulitnya putih lembut, hidungnya mancung dan bibir tipisnya itu merah seperti ceri, “Yeppuda.” pujinya.

Dan Hyunseung berjanji, bahwa ia akan belajar mencintai Jiyoon sebagai istrinya, ia berjanji akan melindunginya dan membahagiakannya dan dengan sebuah kecupan dikening gadis itu pria itu membangunkannya, “Jiyoon-ah, ironabwa.”

The End

Woaaahhh angst gagal ToT ini angst pertama yang kubuat so sorry kalo ngga begitu dapet feelnya, ini juga FF HyunYoon pertamaku ^^ btw RCL ya please be nice ^^

Advertisements

4 comments on “Brides Maid

  1. apa gak bisa lebih kejam dr ini tari..? Hyunseung gue kesiaaaan.. ToT
    *peluk junhyung #eh? *

    eh tapi itu buat aku endingnya kurang.. Kan enak tuh kalo ada diceritain after marriednya hyunseung jiyoon (‾ε‾)..hehehe,cuma pendapat aku aja sih,
    *cipok tari*

    ngom0ng ngm0ng tar,udah berapa lama ya,aku gak kesini? Ihihi,,

    • ya ampun ada onni, terharu saya :’) jujur aja aq sendiri udh lama ngga ngurus blog ini jdi aq juga lupa 😀
      aq mau lanjutin FF ini tp buntu ide -.- kapan-kapan mungkin aq bikin cerita buat mereka dg tema yg berbeda, btw thx udah mampir baca dan komen onn :*

  2. huahhh gini hari baru nemu ff ini. keren thor ceritanya bikin squel hyunseung jiyoon setelah menikah dong thor >,<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s